Senin, Maret 09, 2009

facebook neraka ?! O.O

Siapa yang gak tau facebook? yang gak tau berarti samson (?) kalau bener, koq judulnya kayak gitu? kalo orang yang suka main facebook biasanya gak ada masalah, sii. lah, trus ko, judulnya kaya gitu? tapi ini kenyataan. ini saya kasi potongan entri dari jug jug twit twit (?) yang berisi tentang kerugian facebook : Brown menukas bahwa keberadaan sarana jejaring sosial seperti Facebook memang dapat membuat orang untuk bisa memelihara pertemanan. Selalu ada kejutan yang menunggu di bilik pesan: siapa lagi yang akan muncul detik ini? Tapi, ia juga mengungkai bahwa fasilitas tersebut juga membikin orang jadi kehilangan hak untuk kehilangan kontak dengan orang lain. Alasan yang ia tawarkan cukup masuk akal. Pertemanan, menurutnya, mengutip pikiran penulis Amerika Serikat Ralph Waldo Emerson, secara alami dapat musnah. Ketika masih bersekolah, sebut saja itu Sekolah Dasar, SMP atau SMA, salah satu di antara kita agaknya pernah menulis dengan gagah di buku harian teman kita “Friends Forever,” dengan kukuh pada gagasan ideal yang sentimental akan pertemanan abadi. Namun, ada pula yang mungkin mengakui dalam hati, entah dengan kecut atau lega, bahwa beberapa hubungan memang harus berakhir. Bahwa mungkin kita akan berpisah jarak dengannya. Itu adalah hal alami yang dunia sajikan kepada manusia agar ia dapat selalu berubah, beradaptasi ataupun berevolusi. Brown menyebutnya sebagai cara manusia membebaskan diri dari kelelahan menjaga hubungan dengan banyak teman. Kadang, hal lain yang akan muncul juga adalah semakin banyak teman yang seseorang miliki, mereka akan semakin kurang berharga. Nilai mereka sebagai manusia condong menurun. Mereka jadi semata 'koleksi,' seperti yang kita lhiat di bilik “Friends” pada Facebook. Hal ini mengingatkan saya akan baris-baris sajak Abdul Hadi W.M: “...kata-kata adalah jembatan/namun yang mempertemukan adalah kalbu yang saling memandang” Demikianlah, ketika semakin jauh jarak menuju keintiman, hubungan jadi terasa pura-pura. Semacam kepura-kepuraan ini dialami oleh beberapa teman saya. Salah seorang teman mengeluh bahwa ia harus menerima “undangan” dari seorang perempuan, mantan kekasih pada masa kuliah, untuk menjadi “Friends” di Facebook-nya. Kawan saya itu berkata bahwa ia masih menyimpan alamat surat elektronik dan nomor ponsel si mantan pacar, namun mereka tak lagi saling komunikasi. Alasan menerima “undangan” hanyalah karena ia ingin menambah jumlah nama di bilik “kawan.” Memang kita bisa klik “Remove Friends”. Tapi, begundal macam mana yang tega melakukan hal tersebut, meskipun kepura-puraan tersebut merupakan semacam “neraka”. Tentunya, sebagian dari kita masih mengenang saat-saat yang getir dan old-fashioned itu ketika kita berpisah dengan sahabat atau orang terbaik dalam hidup kita. Air mukanya yang tegang, jabat tangannya yang gemetar, atau aroma tubuhnya yang mengesankan kecemasan: itu adalah momen tak tergantikan. Dan mungkin tidak hanya terjadi sekali terjadi dalam hidup seseorang. jadi abis baca kutipan di atas, diusahain agar nambah temen di facebook jangan asal-asalan.